49. AL MAJIID (Dzat Yang Maha Mulia) Allah Ta’ala sangat patut untuk dimuliakan dan dinomer satukan melebihi segala apapun yang ada dimuka bumi ini, karena sepuluh sifat yang Dia miliki (Asma’ ke 39 s/d Asma ke 48). Pertama Allah Ta'ala menjaga kita dari setiap gangguan yang akan membahayakan keimanan kita (Al Hafidz). Kedua Allah Ta'ala menjamin makan kepada kita agar kuat melakukan keta’atan kepada-Nya (Al Muqit). Ketiga Allah Ta'ala memberikan segala sesuatu kepada kita yang bermanfaat saja dan dijauhkan dari segala sesuatu yang mudhoratkan (Al Hasib). Keempat Allah Ta'ala membimbing kita agar memiliki budi pekerti yang luhur (Al Jalil). Kelima Allah Ta'ala memberikan kepada kita melebihi dari apa yang kita harapkan (Al Karim). Keenam Allah Ta'ala selalu mengawasi kita didalam mengelola pemberian-Nya agar bisa mengelola dengan benar sesuai syareat yang telah Dia tetapkan dan Dia siap menolong kita apabila kita punya masalah (Ar Roqib). Ketujuh Allah Ta'ala mengabulkan do’a-do’a kita yang berdasarkan ketaqwaan (Al Mujib). Kedelapan Allah Ta'ala Maha Luas pemberian-Nya kepada kita (Al Wasi’u). Kesembilan Allah Ta'ala hanya mengabulkan do’a-do’a yang bisa menyelamatkan kita diakhirat kelak (Al Hakim). Kesepuluh Allah Ta’ala sangat mengasihi kita dan selalu memberikan yang terbaik buat kita (Al Wadud). Allah Ta’ala didalam memberikan segala sesuatu kepada hamba-hambaNya dan mencukupi segala kebutuhan hamba-hambaNya tanpa minta balasan sedikitpun. Bahkan Allah Ta'ala memerintahkan hamba-hambaNya untuk melakukan ibadah adalah untuk kebutuhan seorang hamba itu sendiri bukan untuk-Nya. Sebagai contohnya Allah Ta'ala memerintahkan hambaNya untuk mendirikan sholat adalah untuk kebutuhan sang hamba itu sendiri. Karena dengan sholat yang benar bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dia memerintahkan puasa karena dengan puasa yang benar bisa mengendalikan hawa nafsu. Begitupun juga dengan perintah-perintah dan larangan-larangan yang lain, semuanya adalah untuk kebutuhan dan keselamatan hambaNya itu sendiri. Oleh sebab itu Allah Ta’ala sangat patut untuk kita muliakan melebihi segala apapun yang ada dimuka bumi ini. Akan tetapi didalam memuliakan Allah Ta’ala tidak hanya sebatas dilisan saja, tetapi harus dibarengi dengan hati dan dibuktikan dalam perbuatan. Sedangkan bagaimana caranya agar kita bisa memuliakan Allah Ta’ala dengan hati yang tulus? Adalah dengan memahami dan meyakini sepuluh Asma’ diatas. Akan tetapi kenapa didalam hidup ini kita lebih memuliakan orang tua dari pada Allah Ta'ala? lebih memuliakan atasan dari pada Allah Ta'ala? lebih memuliakan orang lain dari pada Allah Ta'ala? padahal mereka semua hanyalah manusia biasa seperti kita. Seharusnya Asma’ Al Majid ini memberikan ketenangan dalam hidup kita. Karena semua telah disiapkan oleh Allah dan tidak ada satu linipun yang kosong melainkan semua dalam jaminan Allah. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang benar-benar yakin kepada Allah tidak memiliki rasa khawatir dan bersedih hati. Surat Yunus (10) : 62 62. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Apabila kita sudah merasa aman (tenang) dengan jaminan-jaminan Allah, baru kita bisa memuliakanNya. Akan tetapi jika kita tidak yakin dengan jaminan-jaminan Allah sehingga tidak merasa tenang, maka selamanya kita tidak bisa memuliakanNya. Sehingga cenderung kita ingin memuliakan diri sendiri dan orang lain. Padahal apa yang bisa kita lakukan? Karena kita bisa melakukan sesuatu hanya sebagai perantaraNya. Yang dimaksud memuliakan disini adalah menomor satukan Allah dari pada yang lainnya. Jangan sampai kita menomor satukan isteri atau suami, anak, orang tua, pekerjaan, kekayaan, dan lain sebagainya. Sehingga Allah terkalahkan dan kita nomorkan sekian. Oleh sebab itu hendaknya kita tanyakan pada diri sendiri. Sudahkah Allah kita nomor satukan dalam hidup ini? Kalau kita tidak bisa merasakan atau menyadari pemberian-pemberian (jaminan-jaminan) Allah dalam hidup ini maka kita tidak akan pernah bisa menomor satukan Allah. Oleh sebab itu Allah memperingatkan kita di surat At Taubah (9) : 24 24. Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. Apabila salah satu saja diantara mereka lebih kita cintai, maka Allah tidak bisa kita jadikan nomor satu. Padahal selain Allah bisa memberi apa terhadap kita? Bahkan mereka sedikitpun tidak bisa menyelamatkan atau menolong kita diakhirat. Karena kita akan menghadap Allah sendiri-sendiri dan andaikata keluarga bisa kita pakai untuk menebus dari azab neraka niscaya akan kita lakukan. Sesuai surat Maryam (19) : 93 – 95 93. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. 94. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. 95. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. Dan surat Al Ma'arij (70) : 11 – 15 11. Sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, 12. Dan isterinya dan saudaranya, 13. Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). 14. Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. 15. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak. Oleh sebab itu jangan sampai orang tua, anak, isteri, kaum kerabat, pekerjaan, harta kekayaan dan lain sebagainya bisa merusak hubungan kita kepada Allah. Ingat.., seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga. Kalau isteri dan anak-anak berbuat salah harus ditegur dan ingatkan, karena mereka perlu dibimbing. Jangan sampai terbalik mereka yang membimbing kita. Karena wanita memiliki sembilan perasaan dan hanya memiliki satu akal, sehingga cenderung mengikuti nafsu. Sedangkan seorang laki-laki memiliki sembilan akal dan hanya satu perasaan. Oleh sebab itu apabila wanita yang menjadi pemimpin cenderung mengikuti nafsunya, sehingga mengarah kepada kefasikan dan menjadi pemimpin yang dzolim. Maka dari itu bagi seorang perempuan jangan sampai ingin menjadi pemimpin dalam rumah tangga dan bagi seorang suami jangan sampai mau dipimpin oleh perempuan. Karena hal itu menyalahi hukum Allah dan rumah tangga pasti akan hancur. Bagaimana mungkin kita bisa menomor satukan Allah jika hukum-hukumNya tidak kita jalankan. Pada dasarnya setiap manusia ingin dinomor satukan. Seperti contohnya seorang suami yang mengatakan kepada isterinya : “kamu ini memperhatikan orang lain tetapi suami sendiri tidak kamu perhatikan”. Ini merupakan contoh minta dinomor satukan dan hal ini telah merampas hak Allah. Apabila dalam hidup ini belum merasakan nyaman (tenang) bersama Allah berarti kita belum beriman. Karena masih bergantung kepada orang lain, pekerjaan, harta dan lain sebagainya. Padahal kebergantungan kepada Allah harus penuh “100 %”. Apabila kita mau menyadari bahwa apapun yang kita dapatkan adalah pemberian Allah, baru kita bisa memuliakanNya dan menomor satukanNya. Akan tetapi apabila ada manusia yang lebih kita muliakan niscaya Allah kita nomorkan sekian. Dengan kata lain apapun yang kita yakini bisa memberikan manfaat dan mudhorat pada diri kita, itulah yang kita nomor satukan. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kita memuliakan Allah Ta'ala dengan pemberian-pemberianNya yang telah Dia berikan kepada kita? Yaitu Allah Ta'ala menjaga kita dari setiap gangguan yang akan membahayakan keimanan kita (Al Hafidz). Kedua Allah Ta'ala menjamin makan kepada kita agar kuat melakukan keta’atan kepada-Nya (Al Muqit). Ketiga Allah Ta'ala memberikan segala sesuatu kepada kita yang bermanfaat saja dan dijauhkan dari segala sesuatu yang mudhoratkan (Al Hasib). Keempat Allah Ta'ala membimbing kita agar memiliki budi pekerti yang luhur (Al Jalil). Kelima Allah Ta'ala memberikan kepada kita melebihi dari apa yang kita harapkan (Al Karim). Keenam Allah Ta'ala selalu mengawasi kita didalam mengelola pemberian-Nya agar bisa mengelola dengan benar sesuai syareat yang telah Dia tetapkan dan Dia siap menolong kita apabila kita punya masalah (Ar Roqib). Ketujuh Allah Ta'ala mengabulkan do’a-do’a kita yang berdasarkan ketaqwaan (Al Mujib). Kedelapan Allah Ta'ala Maha Luas pemberian-Nya kepada kita (Al Wasi’u). Kesembilan Allah Ta'ala hanya mengabulkan do’a-do’a yang bisa menyelamatkan kita diakhirat kelak (Al Hakim). Kesepuluh Allah Ta’ala sangat mengasihi kita dan selalu memberikan yang terbaik buat kita (Al Wadud). B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang selalu memuliakan-Mu baik dengan hati kami, lisan kami, maupun perbuatan kami. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa hanya Allah Ta'ala yang patut untuk dimuliakan. Tidak ada satupun yang berhak dimuliakan kecuali hanya Allah Ta'ala. Karena dia sangat paham bahwa tujuan Allah Ta’ala memberikan perintah maupun larangan kepada hambaNya adalah untuk kebutuhan dan keselamatan sang hamba itu sendiri. Sehingga dia laksanakan apapun yang menjadi keinginan Allah Ta’ala dengan niat yang tulus karena Allah Ta’ala. Karena dia sadar bahwa tugasnya sebagai seorang hamba hanyalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, sedangkan modal dia beribadah sudah diberikan oleh Allah Ta’ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa selalu berusaha untuk memuliakan Allah Ta'ala, baik itu dengan hatinya, dengan perkataannya dan dengan perbuatannya. Dia tidak mau apabila perbuatannya membuat Allah Ta'ala terhina. Oleh sebab itu dia selalu menjalankan apa-apa yang bisa membuat Allah Ta'ala mulia dan meninggalkan apa-apa yang bisa membuat Allah Ta'ala terhina. Yaitu dengan cara melakukan apa-apa yang diperintahkan Allah Ta'ala dan menjauhi apa-apa yang dilarangNya dengan niat yang tulus semata-mata karena Allah Ta'ala. Orang-orang yang bertaqwa sangat menginginkan agar dirinya bisa selamat didunia dan diakhirat, sehingga dia akan menjalankan apa-apa yang disenangi Allah Ta'ala dan meninggalkan apa-apa yang dimurkai oleh Allah Ta'ala. Dia berani mempertaruhkan hartanya, nyawanya, tenaganya dan ilmunya untuk memenuhi apa yang diinginkan oleh Allah Ta'ala. Dia tidak perduli dengan celaan, hinaan dan godaan dunia, yang penting dimata Allah Ta'ala benar dan Allah Ta'ala senang. Karena apabila dia bisa membuat Allah Ta'ala senang, maka Allah Ta'ala akan senang pula kepadanya dan membangga-banggakannya dimajlis para malaikat. Allah Ta'ala berfirman : “Wahai Malaikat-Ku, lihatlah hambaku itu. Dia telah memuliakanKu, mencintaiKu, bertaqwa kepadaKu. Aku bangga punya hamba seperti dia”. Sebagai contohnya adalah Bilal Bin Rabah. Allah Ta'ala memuliakannya dengan mengilhamkan bacaan Adzan untuk memanggil orang-orang yang akan mendirikan sholat. Dan cerita tentang dirinya bagaimana mempertahankan akidah, hampir semua ummat Islam didunia mengetahuinya. Dengan kata lain namanya selalu diingat dan dikenang oleh umat Islam sepanjang masa. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kiranya hati kami, lisan kami dan perbuatan kami tidak membuat-Mu terhina. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal betuk-betul berserah diri kepada Allah Ta'ala atas segala sesuatu yang akan ditentukan bagi dirinya. Dan apabila didalam hidup ini dia membuat Allah Ta'ala terhina, maka dia sangat berharap Allah Ta'ala memberikan peringatan kepadanya. G. Sikap Orang Mukhlis Apabila dia menerima peringatan disebabkan dia membuat Allah Ta'ala terhina, maka peringatan itu dia terima dengan ikhlas dan bersyukur. Karena dengan peringatan itulah dia bisa bertaubat dan memperbaiki diri. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Majiid Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan cenderung memuliakan orang-orang yang memiliki sifat seperti sepuluh sifat Allah Ta’ala diatas. Hal ini sebagai bukti bahwa Allah-pun memuliakannya juga. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Majiid Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk mengajak manusia dalam memuliakan-Mu. Karena segala apa yang dibutuhkan oleh manusia, Engkaulah yang memberikannya. Sehingga manusia dapat melihat dan merasakan segala apa yang mereka terima adalah datang dari-Mu, kemudian mereka dapat bersyukur dan memuliakan-Mu.